tinta printertinta infusphoto paper
Kamis, 22 Agustus, 2019
   
Text Size

Pengumuman

BIMBINGAN MANASIK HAJI DAN UMRAH PROSEDUR MENDAPATKAN IBADAH YANG MABRUR

Drs.H. RASYIDUL BASRI, MA
NIP. 19550804198303 1 002



A.    Latar Belakang Masalah
Ibadah haji diwajibkan kepada setiap individu yang bersifat perseorangan,  sebagaimana ibadah wajib lainnya, seperti ibadah shalat, puasa dan zakat. Karena itu setiap orang tentu mempunyai pengetahuan dan pengalaman tersendiri dalam pelaksanaannya.  Kondisi yang berbeda antara sesama jamaah haji merupakan sebuah dinamika  yang perlu disikapi secara positif dan penuh kebermaknaan.     
Pemerintah dengan berbagai upaya telah membekali jamaah menghadapi suasana yang  yang penuh dengan perbedaan itu, misalnya peningkatan pengetahuan dan wawasan jamaah yang diberikan melalui bimbingan manasik haji.  Kegiatan pembinaan terhadap calon jamaah haji merupakan  salah  satu  dari tiga amanat Undang-undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah haji  yaitu memberikan pembinaan, pelayanan dan perlindungan kepada jamaah calon haji, sehingga mereka dapat menjalankannya sesuai dengan syariat agama Islam.  
Kementerian Agama sebagai panitia penyelenggara haji dengan berbagai program senantiasa  berusaha memberikan  pelayanan yang terbaik kepada jamaah sejak pendaftaran,  sebelum dan sewaktu keberangkatan, dalam perjalanan di pesawat, selama di Arab Saudi,  sampai kepulangan ketanah air dan pasca haji. Selama diperjalanan para jamaah haji  didampingi oleh petugas kloter  ( TPHI, TPIHI dan TKHI serta para medis) dan non kloter.   Disamping  bimbingan langsung juga diberikan dalam bentuk bimbingan tidak langsung yang penyediaan buku-buku paket yang dijadikan tuntunan dan panduan dalam pelaksanaan ibadah haji.
Oleh karenanya setiap calon jamaah haji,  baik yang akan berhaji atau umrah semestinyalah mengikuti bimbingan dan pelatihan manasik  penguasaan materi pengetahuan yang akan dapat dilakukannya secara baik. Dengan pembekalan manasik haji akan dapat mengetahui tempat-tampat yang akan dikunjungi dan amalan apa yang harus dikerjakan pada lokasi tersebut.    

B.    KONSEP DASAR  PENGETAHUAN IBADAH HAJI DAN UMRAH
1.    Pengertian Manasik  Ibadah  Haji serta Urgensinya
Istilah kata manasik berasal dari bahasa Arab yang kata dasarnya dari nusuk yang berarti ibadat, bakti kepada Allah (Mahmud Yunus,1990:450). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata manasik berarti ibadah (Depdiknas,2003:709). Apabila digabungkan dengan kata “ haji ” artinya adalah hal-hal yang berkaitan dengan ibadah haji seperti ihram, wukuf, tawaf, sa’i dan tahalul.                                                                              
Dalam perspektif jamaah haji,  manasik  diartikan sebagai pelatihan pelaksanaan ibadah haji dan umrah sesuai dengan prosesi dan tata cara   penyelenggaraannya. Manasik haji merupakan kegiatan untuk memberikan  pembekalan kepada jamaah tentang konsep pengetahuan dan wawasan  yang berkaitan dengan ibadah haji dan umrah. Disamping menjelaskan secara teori juga diringi dengan melakukan praktek  atau  peragaan. Untuk mempermudah pemahaman jamaah biasanya latihan  itu  mempergunakan alat peraga seperti, miniatur ka’bah, peragaan wukuf, sa’i,  tahalul dan sebagainya.                 
Urgensi  manasik haji  dimaksudkan untuk membekali setiap calon jamaah haji untuk  menjadi mendapat pedoman bagi mereka dalam melaksanakan manasik sesuai dengan alur gerak dan tempat kegiatan ibadah ( Depag,2005:1). Dengan mengikuti bimbingan manasik para calon jamaah haji dapat mengetahui prosedur dan tata cara kegiatan ibadah secara mandiri yang akan dilakukan selama mereka berada Arab Saudi.


2.    Ketentuan Tentang Ibadah Haji
a.     Pengertian dan Hukum Dasar  Haji 
Pengertian haji menurut syar’i  adalah  mengunjungi  baitullah (ka’bah) dalam waktu tertentu untuk beribadah dengan melakukan beberapa perbuatan yaitu ihram, wukuf, tawaf, sa’i dan lain-lainya (Depag, 2001: 4). Ibadah haji  sebagai salah satu rukun Islam yang kelima disyari’atkan Allah SWT. pada akhir tahun ke 9 hijrah.  
Hukum mengerjakan  ibadah haji adalah  wajib dalam  sekali seumur hidup  setiap orang Islam yang memenuhi syarat, dan bagi orang yang bernazar melakukannya. Sedangkan haji untuk yang kedua kali atau lebih   hukum mengerjakannya adalah sunat. 

b.    Syarat,  Rukun dan wajib haji
1)    Syarat wajib haji                                                                                               
Yang dimaksud dengan syarat adalah sesuatu yang harus dipenuhi setiap orang yang akan melaksanakan ibadah haji atau umrah (Depag,2000:9).  Dengan terpenuhi persyaratan  itu maka  menjadi wajib atau sah ibadah haji dan umrah yang dilakukan seseorang. Syarat-syarat itu oleh para Imam Mazhab dibagi kepada dua  yaitu syarat wajib dan syarat sah.                                                   
Syarat wajib haji                                                          
a)    Islam
b)    Baligh (dewasa)
c)    Berakal sehat
d)    Merdeka (bukan hamba sahaya)
e)    Mampu (istitha’ah)
Sedangkan istitha’ah (mampu) mempunyai kandungan makna yaitu kesangguppan  melaksanakan ibadah haji ditinjau dari beberapa aspek, seperti dijelaskan pada pola bimbingan manasik calon jamaah haji  sebagai berikut:                                                                                
1)     Jasmani: sehat tubuh dan kuat pisiknya, agar tidak mendapatkan kesulitan dalam melakukan ibadah haji atau umrah.
2)    Rohani :                                                                      
a)    Memahami dan mengetahui tentang ilmu dan prosesi pelaksanaan ibadah haji atau umrah. 
b)    Berakal sehat dan memiliki kesiapan mental untuk melakukan ibadah haji atau umrah yang dalam pelaksanaannya akan menjumpai suka dan dukanya.  
3)    Ekonomi:
a)    Mampu membayar Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH).
b)    Memperoleh biaya penyelenggaraan ibadah haji  bukan berasal dari penjualan harta satu-satunya sumber kehidupan yang apabila dijual menyebabkan kemudaratan bagi diri dan keluarganya.
c)    Memiliki biaya hidup bagi keluarga yang ditinggalkan selama dalam perjalanan ibadah.
d)    Memiliki nomor porsi sebagai bukti telah terdaftar sebagai calon jamaah haji.
4)    Keamanan:
a)    Aman sewaktu dalam perjalanan dan pelaksanaan ibadah haji
b)    Aman bagi keluarga, harta benda, tugas dan tanggung jawab yang ditinggalkan.
c)    Tidak sedang terhalang seperti pencekalan/ men dapat kesempatan atau izin perjalanan disebabkan karena suatu persoalan hukum/kriminal (Depag,2007:20).

2)    Syarat sahnya haji
a)    Islam, maka tidak sah haji atau umrahnya orang kafir.
b)    Tamyiz, (usia menjelang baligh) artinya tidak sah haji atau umrahnya anak yang mumayyiz.
c)    Dilaksanakan pada waktu dan tempat tertentu (miqat zamani dan miqat makani) (Depag:2001,10).

c.    Rukun Haji 
Yang dimaksud dengan rukun haji yaitu  serangkaian amalan-amalan  yang harus dilakukan dalam ibadah haji. Apabila tidak mengerjakan  maka tidak sempurna ibadahnya yang berakibat tidak sah (batal) hajinya  dan tidak dapat diganti dengan membayar dam atau denda (Depag,2009:7).                                                                                
Adapun rukun haji yaitu : 
1)    Ihram / niat
Untuk memulai pelaksanaan ibadah haji diawali dengan berihram.  Yang dimaksud dengan ihram terdiri dari memakai pakaian ihram, melafazkan niat  di miqat makani, serta diiringi  dengan membaca kalimat talbiyah. Semenjak ihram diikrarkan diharamkan hal-hal yang terlarang selama dalam keadaan  berihram.

2)    Wukuf di Arafah
Makna wukuf Arafah yaitu berhenti atau berada di Arafah dalam keadaan ihram pada waktu tertentu. Keberadaan seseorang di Arafah menjadi sah walaupun sejenak dengan rentangan waktu sejak tergelincirnya matahari tanggal  9 Dzulhijah  sampai dengan terbit fajar tanggal 10 Dzulhijah.
Wukuf di Arafah termasuk salah satu rukun yang paling utama. Bagi jamaah yang tidak melaksanakan wukuf di Arafah berarti tidak mengerjakan haji. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Saw. yang artinya “ haji itu di Arafah, barang siapa yang datang pada malam hari ( 10 dzulhijah sebelum terbit fajar) maka sesungguhnya ia masih mendapatkan haji ” (Depag:2001,53).
Pelaksanaan wukuf dimulai dengan mendengarkan khutbah wukuf dan dilanjutkan dengan shalat  jama’ qashar taqdim Dzuhur dan Ashar. Wukuf dapat dilaksanakan dengan berjama’ah atau sendirian. Kegiatan selama wukuf diisi dengan memperbanyak istighfar, zikir, dan do’a sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Wukuf tidak disyariatkan suci dari hadats besar atau kecil. Oleh karenanya wanita sedang haid atau nifaspun boleh melakukan wukuf.

3)    Tawaf ifadhah
Thawaf ifadah adalah thawaf yang dilakukan setelah meninggalkan Arafah. Tawaf ini tidak boleh ditinggalkan sama sekali, karena ia termasuk rukun haji,  bila tidak dikerjakan hajinya tidak sah, dan tidak dapat diganti dengan membayar dam (denda). Jika ia masih berniat haji maka harus mengulangi tahun berikutnya.
Pelaksanaannya  yaitu mengililingi ka’bah sebanyak 7 (tujuh) kali  putaran yang dimulai dari garis sejajar hajar aswad dan berakhir di garis sejajar hajar aswad (Depag, 2001:41).  Thawaf ini  harus dilakukan secara berkesinambungan antara putaran ke 1 (satu)  sampai putaran ke 7 (tujuh).

4)    Sa’i
Yang dimaksud dengan sa’i adalah berjalan ( berlari-lari kecil) dari bukit Safa ke bukit Marwa atau sebaliknya sebanyak 7 (tujuh) kali perjalanan. Sa’i merupakan salah satu rukun haji yang wajib dilakukan dan bila tidak dikerjakan menyebabkan batalnya haji seseorang.
Pelaksanaannya  dimulai dari bukit Safa dan berakhir di bukit Marwa atau sebaliknya. Masing-masingnya  dihitung 1 (satu) kali perjalanan, dilaksankan secara berkesinambungan antara perjalanan ke 1 (satu) sampai perjalanan ke 7 (tujuh).   Sa’i  hanya dilakukan setelah tawaf rukun baik untuk ibadah umrah atau ibadah haji.

5)    Tahalul
Yang dimaksud dengan tahalul adalah menaggalkan ihram karena telah selesai melaksanakan amalan-amalan haji seluruhnya atau sebagiannya, yang ditandai dengan bercukur (gundul) atau memotong beberapa helai rambut (Abdul Azis Dahlan,1996:485). Tahalul menunjukan keadaan seseorang yang dibolehkan melakukan perbuatan yang sebelumnya dilarang pada waktu berihram haji.
Tahalul itu ada dua macam yaitu tahalul awal dan tahalul tsani. Yang dimaksud dengan tahalul awal adalah seseorang yang telah menyelesaikan dua diantara tiga perbuatan yaitu melontar jumrah aqabah, memotong rambut (bercukur), atau tawaf ifadah dan sai. Sedangkan tahalul tsani adalah seseorang yang telah menyelesaikan tiga perbuatan tersebut yaitu melontar jumrah aqabah, bercukur, tawaf ifadah dan sa’i. Sesudah tahalul tsani jamaah yang bersuami istri telah halal melakukan hubungan (jima’).

6)    Tertib
Dari enam rukun haji tersebut yang dilakukan hanya lima rangkaian kegiatan (amalan), sedangkan rukun yang keenam  (tertib) mengatur tentang tata urutan yang harus dilakukan dari awal sampai dengan selesai.

d.    Wajib dan sunat haji
1)    Wajib haji
Yang dimaksud dengan wajib haji adalah rangkaian amalan yang harus dikerjakan dalam ibadah haji, dan bila tidak dilakukan maka hajinya tetap sah tetapi harus diganti dengan membayar dam (denda). Sesuatu yang perlu  dipahami bahwa bila sengaja meninggalkannya dengan tidak ada uzur syar’i yang membolehkannya maka perbuatan itu adalah dosa.    
Adapun wajib haji terdiri dari :
a)     Ihram  dari miqat 
Yang dimaksud dengan miqat dalam ibadah haji adalah batas waktu atau  tempat melafazkan niat  melakukan ibadah haji atau umrah.
b)     Mabit di Muzdalifah
Mabit di Muzdalifah adalah berhenti (bermalam) sejenak di Muzdalifah dengan kegiatan berdo’a atau berzikir sampai lewat tengah malam pada tanggal 10 dzulhijah. Bagi yang datang di Muzdalifah sebelum tengah malam, maka harus menunggu sampai lewat tengah malam.
Mabit bisa berhenti sejenak istirahat dalam kendaraan atau turun dari kendaraan ke padang pasir. Pada saat itu diberikan kesempatan untuk mencari krikil (batu) yang akan dipergunakan melontar jamarah di Mina. Setelah lewat tengah malam jamaah berangkat menuju Mina.
c)     Mabit di Mina
Yang dimaksud dengan mabit di Mina adalah keadaan jamaah bermalam (istirahat) di Mina pada hari-hari tasyrik. Jamaah haji yang mabit di Mina pada tanggal 11 sampai 12 Dzulhijah dan meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam disebut Nafar awal. Sedangkan jamaah yang tetap tinggal di Mina sampai dengan tanggal 13 Dzulhijah disebut  Nafar tsani.
d)     Melontar jumrah ula, wustha, dan aqabah
Melontar jamarah maksudnya adalah melontar (melem parkan) batu krikil kedinding marma (bata) jamarah pada hari-hari yang telah ditentukan. Melontar jamarah dilakukan pada hari Nahr dan hari tasyrik.
Pelaksanaannya pada tanggal 10 dzulhijah hanya melontar untuk jumrah aqabah saja.  Waktu afdhalnya adalah disaat waktu dhuha. Sedangkan pada hari tasyrik yaitu tanggal 11, 12, dan 13 dzulhijah melontar ketiga jamarah ula, wustha dan aqabah.    
e)     Tawaf wada’ 
Tawaf wada’ adalah tawaf perpisahan (pamitan) dengan ka’bah yang wajib dilakukan seseorang yang akan meninggalkan kota Mekah. Pelaksanaannya mengengelilingi ka’bah sebanyak 7 (tujuh) putaran secara berkesinambungan, dan tidak diikuti dengan sa’i.

2)    Sunat-sunat Haji
Pengertian sunat menurut istilah syara’ yaitu amalan-amalan apabila dilaksanakan mendapatkan pahala dan bila ditinggalkan tidak dikenakan apa-apa (Depag,2001:14). Ibadah sunat dalam berhaji  dilakukan seiringan dalam  melaksanakan ihram, wukuf, mabit, melontar jmaarat, tawaf ifadhah, sa’i dan tahalul.  
Beberapa contoh amalan-amalan sunat sewaktu berihram seperti, mandi sebelum ihram, memakai wangi-wangian, memotong kuku,  merapikan kumis atau jenggot, memakai kain ihram warna putih, ihram setelah shalat, membaca talbiyah, menghindari prilaku tercela, dan dianjurkan banyak berzikir dan talbiyah.

3.    Ketentuan Tentang Ibadah Umrah
a.     Pengertian dan Hukum Ibadah Umrah
Umrah menurut syar’i berarti berkunjung ke ka’bah  ( baitullah ) di Masjidil Haram untuk beribadah dengan melakukan amalan-amalan sebagai berikut yaitu  ihram, tawaf, sa’i, tahalul  (Depag,2000:4). Umrah merupakan suatu  ibadah yang dilakukan sebagai wujud kepatuhan dan ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT. karena selalu mengharapkan keridhaan-Nya.
Hukum ibadah umrah adalah wajib sebagaimana wajibnya ibadah haji.  Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT  yang artinya; “ dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah” (Q.S Al-Baqarah,196).
Dalam sebuah hadits dijelaskan, bahwa Abu Rozim datang kepada Nabi SAW. dan berkata; Ya Rasulullah sesungguhnya ayahku sudah tua sekali, tidak mampu berhaji, tidak mampu berumrah, tidak mampu berpergian, Rasulullah bersabda; “ Hajikan untuk ayahmu dan umrahkan”  (Depag:2009,6).
Sedangkan yang melaksanakan untuk umrah kedua kali atau lebih hukumnya sunat, kecuali orang yang telah bernazar, maka ia wajib  mengerjakannya.  Waktu mengerjakannya dapat dilaksanakan kapan saja, kecuali pada hari-hari yang terkonsentrasi jamaah dengan kegiatan mengerjakan haji, seperti hari arafah, hari nahar, dan hari tasyrik.

b.    Syarat-syarat  wajib  umrah
Apabila  persyaratan berikut ini  terpenuhi, maka wajiblah seseorang melakukan umrah, persyaratan itu adalah:                                                          
a)    Islam
b)    Baligh (dewasa)
c)    Berakal sehat
d)    Merdeka (bukan hamba sahaya)
e)    Mampu (istitha’ah)
c.     Syarat sahnya  umrah
a)    Islam
b)    Tamyiz
c)    Berihram dilaksanakan pada  tempat  miqat ( miqat makani).

d.        Rukun umrah yaitu :
Rangkaian amalan yang harus dilakukan dalam pelaksanaan ibadah umrah terdiri dari :                                                 
a)    Ihram / niat
b)    Tawaf
c)    Sa’i
d)    Tahalul
e)    Tertib
Rukun umrah yang dilakukan hanya empat  kegiatan (amal an), sedangkan rukun yang kelima (tertib) mengatur tentang tata urutan yang dikerjakan pertama sampai terkahir.

e.    Wajib Umrah
Wajib umrah merupakan  amalan yang harus dikerjakan, bila tidak dilakukan maka ibadahnya tetap sah tetapi harus menganti dengan membayar  dam (denda). yang termasuk wajib umrah adalah :
a)    Berihram dari miqat
b)    Memelihara diri dari prilaku yang terlarang selama ihram.

4.    Dam dan Larangan  dalam  Ibadah haji dan Umrah
a.    Dam
Istilah dam berasal dari kata bahasa Arab artinya secara bahasa adalah darah. Menurut syara’ adalah menyembelih binatang tertentu sebagai sanksi terhadap pelanggaran atau karena meninggalkan sesuatu yang diperintah dalam rangka pelaksanaan ibadah haji dan umrah atau karena mendahulukan umrah dari pada haji (haji tamattu’) atau karena melakukan haji dan umrah secara bersamaan yairu haji qiran (Abdul Azis Dahlan,1996:244).          
Binatang ternak yang dapat dipergunakan sebagai dam antara lain  kambing, unta atau sapi di tanah haram untuk memenuhi ketentuan manasik haji. Penyembelihan bintang ternaklah yang diprioritaskan untuk membayar dam (sanksi), sementara bentuk-bentuk lain hanyalah merupakan pengganti.
Dam terdiri dari 2 (dua) jenis, yaitu :
a)    Dam Nusuk karena memang aturannya demikian dikenakan bagi orang yang mengerjakan haji tamattu’.
b)    Dam Isa’ah karena melanggar aturan syara’, seperti meninggalkan salah satu wajib haji atau umrah antara lain tidak berihram dari miqat, tidak mabit di Muzdalifah, tidak mabit di Mina, tidak melontar jamarah, tidak tawaf wada’ kecuali bagi wanita haid atau nifas (Depag,2001:80).

b.    Larangan-larangan dalam ibadah haji dan umrah
Dalam melaksanakan ibadah haji ada larangan-larangan yang harus  dihindari bagi jamaah, diawali semenjak  berihram  dari miqat sampai dengan tahalul tsani.  Larangan-larangan itu secara umum dapat dibagi pada tiga kelompok (Depag,2001: 21), yaitu:
1)    Larangan yang menyebabkan batalnya ibadah haji seseorang dan diwajibkan membayar dam (denda), seperti bersetubuh dengan suami/istri sebelum tahalul awal pada tanggal 10 zulhijjah, dan tentu juga termasuk melakukan jima’ dengan wanita/pria lain yang tidak dibolehkan menurut syara’.
2)    Larangan yang tidak membatalkan haji seseorang, tetapi dia harus membayar dam atau fidyah yaitu mengerjakan semua yang terlarang sewaktu berihram. Larangan tersebut dikerjakan dengan sadar dan disengaja.
3)    Larangan yang tidak membatalkan hajinya dan juga tidak dikenakan membayar dam / fidyah seperti bergunjing, mengumpat dan sejenisnya. Sekalipun prilaku seperti itu tidak membatalkan hajinya, tetapi dapat mengurangi kemabruran haji seseorang itu. Apabila jamaah haji melakukan larangan seperti terdapat pada point 3, maka kepadanya dikenakan fidyah dengan alasan merusak ihram (Depag,2001:21).
Berikut  ini merupakan perbuatan yang terlarang selama berihram sebagai berikut :
a.    Khusus untuk  jamaah pria :
1)    Memakai pakaian biasa / pakaian berjahit
2)    Memakai sepatu yang menutup mata kaki
3)    Menutup kepala yang melekat seperti topi, kalau tidak melekat dibolehkan seperti payung, kecuali karena sakit dibagian kepala yang harus ditutupi.
b.    Khusus untuk jamaah wanita
1)    Berkaos tangan/ menutup  telapak tangan
2)    Menutup muka ( memakai cadar)
c.    Bagi keduanya yaitu pria dan wanita
1)    Memakai wangi-wangian kecuali yang dipakai sebelum ihram
2)    Memotong kuku, dan mencukur kumis/jenggot, mencabut bulu badan dan sebagainya
3)    Memburu dan menganiaya binatang dengan cara apapun kecuali binatang yang membahayakan.
4)    Kawin, mengawinkan atau meminang wanita untuk dinikahi.
5)    Bercumbu atau bersetubuh ( rafats ).
6)    Mencaci, bertengkar atau mengucapkan kata-kata kotor (fusuk dan jidal).
7)    Memotong pepohonan di tanah haram.
8)    Apabila ada alasan yang dapat diterima syara’ seperti memakai masker demi kesehatan, perban kepala bagi pria yang ada luka kepala, wanita menutup muka demi kehormatannya didepan orang asing (ajnabi), maka itu dibolehkan.
9)    Saat shalat dilarang memakai masker bagi wanita dan pria.

5.      Kaifiat Pelaksanaan Ibadah Haji
Pelaksanaan Ibadah haji dapat dilakukan dengan 3 (tiga) macam model yaitu :
a)    Haji Tamattu’ yaitu : seseorang melaksanakan ibadah umrah pada bulan-bulan haji kemudian dilanjutkannya  dengan mengerjakan haji pada bulan itu juga tanpa kembali ketempat miqat semula. Mengerjakan ibadah haji seperti ini dikenakan pembayaran dam nusuk.
b)    Haji Ifrad yaitu : seseorang mengerjakan haji saja tanpa ibadah umrah, sedangkan umrahnya dapat dilakukannya sesudah pelaksanaan ibadah haji. Cara seperti tidak dikenakan dam (denda).
c)    Haji Qiran yaitu : seseorang mengerjakan haji dan umrah secara bersama-sama dalam satu niat ihram. Cara melaksanakan ibadah haji secam ini juga dikenakan dam.

C.    Rangkuman
Manasik haji merupakan  sebuah kegiatan pelatihan bagi calon jamaah yang akan menunaikan ibadah umrah dan haji. Sebelum jamaah haji  berangkat ketanah suci, mereka diajarkan dan dibekali  konsep ilmu pengetahuan dan makna-makna yang terkandung dalam ibadah umrah dan haji. Disamping diajarkan secara teori juga diajarkan dalam bentuk demontstrasi pelaksanaan ibadah umrah dan haji dengan mempergunakan alat peraga seperti ka’bah mini, jamarat, maket sa’i, wukuf, dan tahalul. 
Kegiatan manasik dimaksudkan untuk  mempermudah pemahaman  dan membekali setiap  jamaah haji.  Pembelajaran manasik  menjadi pedoman bagi mereka dalam melaksanakan  haji dan umrah  sesuai dengan alur gerak dan tempat kegiatan ibadah.  Dengan mengikuti bimbingan manasik para calon jamaah haji dapat mengetahui tata cara kegiatan ibadah secara mandiri yang akan dilakukan selama mereka berada tanah suci.  
Materi inti yang diajarkan dalam kegiatan manasik haji adalah konsep dasar  umrah  yang terdiri pengertian, syarat, rukun dan wajib umrah serta larangan-larangan dalam melakukan ibadah umrah. Disamping itu dijelaskan pula tentang konsep dasar haji yaitu pengertian, syarat, rukun dan wajib haji serta dam dan larangan-larangan dalam berhaji.


DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama(1999), Al-Qur’an dan Terjemahannya, Jakarta.
Dahlan, Aziz.dkk (1996),  Ensiklopedi Hukum Islam, Jakarta.
______________(2000),   Fiqh Haji, Jakarta.
______________(2009), Bimbingan Manasik Haji dan Operasionalnya Bagi    Petugas Haji, Jakarta.
______________ (2009), Penanganan Kasus-Kasus Operasional  Ibadah Haji di Arab Saudi, Jakarta.
______________(2007) Pola Bimbingan Manasik calon Jamaah Haji, Jakarta.
Depdiknas(2003), Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Jakarta.
Yunus, Mahmud(1990). Kamus Bahasa Arab Inggeris; Jakarta.



















it konsultanit supportjasa pembuatan aplikasi dan server jual beli motor motor bekasjual motor bekas sarang semut papuateh sarang semutrumput kebar ecotrubakteri dan enzimenvironmental consultant indonesia sewa mobil murah jakartarental mobil harianrent car free download moviedownload filmsubtitle indonesia jual beli mobil bekassitus jual beli mobilmobil bekas pakar seo indonesia narasumber seminarmaster seo berita bantenrakyat bantenpendekar banten okezonejual mobil bekastoko online gratis komunitas itstaff executive komunitas hacker serang kotaserangpemerintah serang terpupuskansejarah pahlawansejarah tangerang jasa seojasa seo berkualitasjasa backlink sewa mobil murah jakartarental mobil harianrent car jasa mobiejasa mobilejasa jablay tangseltangerang selatantangerang ku bangdjocerita dewasafoto abg bugil tampilan bagusabg labilbuka kerudung
serang kota terpupuskan jasa seo sewa mobil murah jakarta jasa mobie tangsel tampilan bagus belajar seo seo murah dota 2 indonesia ternak lele google bot Data Maya dealer motor bekas prabotan rumah kicau burung verza indonesia community digital telekomunikasi dihina telekomunikasi wajar aja pantai sawarna pantai anyer liburan ke pantai seo jakarta terpusatkan appacer orang sunda xone shop indonesia perabotan rumah resep makanan distributor tas rangsel pantai tanjung lesung jual tinta printer kota rambah emping banten jual rumah info loker kali gua