Top
    bdkpadang@kemenag.go.id
(0751) 7053807
Strategi Peningkatan Peran Guru dalam Memenuhi Kompetensi Pembelajaran Abad Ke-21

Strategi Peningkatan Peran Guru dalam Memenuhi Kompetensi Pembelajaran Abad Ke-21

Sabtu, 28 November 2020
Kategori : Artikel Ilmiah
504 kali dibaca

 

Abstrak

Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya di masanya. Hal ini menandakan kurikulum tidak boleh stagnan dan statis. Hal demikian juga berlaku pagi guru sebagai pelaksana teknis dari kurikulum. Guru harus menyesuaikan kompetensinya sesuai dengan kebutuhan kehidupan siswa agar memiliki life skill yang bermanfaat bagi kehidupannya terutama pada abad 21 dewasa ini.Hal yang perlu diperhatikan guru untuk hal itu adalah pertama membangun Pengalaman Belajar Siswa, kedua mempertimbangkan Perbedaan Murid, ketiga meningkatkan Kualitas Diri, dan keempat membangun hubungan emosional dengan siswa.

Key word: Pembelajaran abad 21, peran guru, proses pembelajaran

 

A. PENDAHULUAN

Tidak ada yang pasti di dunia ini, kecuali perubahan. Perubahan merupakan sesuatu yang tetap dan terjadi di mana saja dan kapan saja. Seperti yang dikemukakan oleh seorang filsuf Yunani yang hidup 26 abad yang lalu, Heraclitus, mengatakan bahwa tidak ada satupun yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri (Nothing endures but change). Perubahan itu didasari oleh kemampuan manusia dalam berpikir dan menganalisis sesuatu hal hingga menghasilkan penemuan-penemuan baru. Penemuan-penemuan tersebut dapat berupa berupa ilmu pengetahuan yang baru, pemikiran yang baru, atau aksi yang baru yang sesuai dengan zaman tersebut.

Pada abad ini, abad ke-21, secara signifikan terjadi banyak perubahan. Perubahan itu sangat cepat dan mendasar, bahkan mempengaruhi semua bidang kehidupan, seperti sosial, budaya, dan tentunya akan mempengaruhi terhadap dunia pendidikan. Maka, benar adanya pesan singkat dari Khalifah kedua umat Islam Umar bin Khatab “Didiklah anak-anakmu, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu”.faktanya setiap generasi memiliki zamannya sendiri dengan situasi dan tantangan berbeda.Oleh karena itu, perlu mempersiapkan anak didik untuk mampu hidup di zamannya.

Menurut Profesor Iwan Pranoto seperti yang dikutip Ismail (2017) bahwa perubahan yang cepat pada semua bidang berdampak padakalah cepatnya  kurikulum dan pola pendidikan di Indonesia jika dibandingkan dengan dinamika kebutuhan masyarakat dan tuntutan dunia kerja pada abad ini. Berbagai hal akan dikenai dampak tersebut, seperti kebijakan-kebijakan Pendidikan yang berhubungan dengan regulasi bidang Pendidikan, pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam proses, guru selaku pelaku pendidikan, siswa, sarana dan prasarana dan tentunya masih banyak hal yang dikenai dampak tersebut.

Di era sekarang, munculnya revolusi elektronik berbasis internet membuat meningkatnya kebutuhan akan teknologi informasi dan komunikasi (TIK).Hampir semua bidang kehidupan menyandarkan aktivitasnya pada teknologi ini. Perubahan yang revolusioner ini memaksa kurikulum pendidikan untuk beradaptasi dan mengantisipasinya. Keterampilan siswa perlu ditingkatkan. Demikian juga dengan kompetensinya. Guru dan siswa harus memiliki kemampuan mempersiapkan diri dalam menghadapi kemajuan zaman yang cepat berubah. Sehubungan dengan hal tersebut tujuan artikel ini adalah untuk menguraikan apa sajakah peran guru yang sangat diperlukan dan yang digunakan dalam mensiasati pembelajaran abad ke-21 ini.

 

B. Strategi Peningkatan Peran Guru dalam Pembelajaran

Pentingnya proses pembelajaran dibandingkan produk sudah menjadi pembicaran yang populer di kalangan pelaku Pendidikan (Kyriacou, 2011). Penguasaan terhadap substansipelajaran tidak menjadi hal yang utama yang menjadi perhatian guru. Akan tetapi, bagaimana siswa mengapresiasikan cara belajarnya menjadi hal yang sebanding dengan keutaman penguasaan substansi pelajaran bagi siswa.

Pentingnya proses pembelajaran ini dimaksimalkan dengan aktivitas belajar siswa yang merata dan bersinergi, serta menunjukkan keterlibatannya dalam segala tahapan pembelajaran. Dengan demikian, dalam proses ini tidak saja terjadi transfer ilmu pengetahuan dan pengalaman, tetapi juga akan meningkatkan motivasi dan sikap belajar posistif oleh siswa.

Sejalan dengan itu, peran dan fungsi guru juga berubah. Guru yang sebelumnya sebagai ahli mengajar menjadi ahli pembelajaran. Guru harus mampu membangun aktivitas belajar dan pengalaman belajar yang memfasilitasi pembelajaran siswa. Berikut beberapa peran guru yang menjadi perhatian dalam menghadapi pembelajaran abad ke-21.

1. Membangun pengalaman belajar

Membangun pengalaman belajar dalam proses pembelajaran melibatkan dua pihak yang berperan membangun komunikasi interaktif. Pihak yang pertama adalah guru dan pihak lainnya adalah siswa. Sebelum memasuki pemelajaran abad ke-21, pembelajaran lebih didominasi oleh guru. Aktivitas guru lebih tinggi, peran guru lebih utama untuk terjadinya proses pembelajaran. Guru melakukan transfer ilmu seperti yang dimauinya. Aktivitas belajar siswa ditunjukkan dengan kemampuan menerima informasi melalui mendengarkan, menghafal, dan mengerjakan tugas-tugas secara individu atau dalam kelompok kerja siswa. Namun, pembelajaran abad ke-21 kecenderungan dominasi aktivitas guru lebih menipis. Pembelajaran berbasis aktivitas guru beralih menjadi pembelajaran berbasis aktivitas siswa. Oleh karena itu, perlu disikapi dengan dua hal berikut:

a. Meminimalkan aktivitas guru

Kyriacou (2011) menjelaskan terdapat tiga aktivitas guru dalam proses pembelajaran, yaitu pertama,menjelaskan struktur dan tujuan pengalaman belajar, kedua,menginformasikan, menggambarkan, dan menjelaskan, dan ketiga, Menggunakan pertanyaan, dialog, diskusi. Aktivitas yang pertama dilakukan oleh guru pada awal pembelajaran untuk memberikan arah yang jelas bagi siswa bagaimana pembelajaran ditujukan dan bagaimana pembelajaran dilaksanakan, serta bagaimana pembelajaran dihasilkan. Aktivitas pertama ini sangat penting dilakukan guru agar siswa mendapat arah yang jelas dalam memulai pembelajaran.

Aktivitas kedua merupakan aktivitas guru yang sering keblabasan dalam pelaksanaannya oleh guru. Guru terkadang lupa perannya sebagai peran yang menjadi pendukung bagi siswa untuk mendapatkan pengalaman belajar. Oleh karena itu, perlu guru menjaga eksistensinya yang luar biasa dalam pembelajaran. Dalam transfer pengetahuan, siswalah yang lebih mendominasi.

Aktivitas Ketiga dilakukan oleh dengan intensitas yang tinggi. Mengajukan pertanyaan adalah kegiatan yang tidak pernah ditinggalkan oleh guru, bahkan aktivitas ini adalah seni dalam memancing memotivasi siswa dan memusatkan kembali perhatiannya dalam belajar. Sederhananya, mengajukan pertanyaan adalah aktivitas guru yang kompleks. Jenis pertanyaan yang dapat digunakan oleh guru terdiri atas pertanyaan tertutup dengan satu jawaban atau pertanyaan terbuka dengan fleksibelitas jawaban (Modul Kurikulum 2013). Maka, guru perlu dengan cermat memilih jenis pertanyaan yang tepat pada situasi yang benar.

Pengajuan pertanyaan juga dapat membangun pembelajaran yang dialogis. Dialog guru dapat diikuti dengan dialog-dialog siswa dalam membahas suatu masalah dan mengumpulkan suatu bahasan pelajaran. Ketika pembelajaran dialogis diciptakan, siswa secara intelektual akan menyampaikan gagasan yang kreatif. Pembelajaran yang dialogis antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa ditandai dengan pertanyaan terbuka yang memancing jawaban yang variative, jawaban siswa dijadikan bahan dialog berikutnya, dan dengan dialog dapat merangkai pemikiran siswa menjadi sebuah jawaban yang final (Alexander,2008).

Seperti halnya segitiga, Teknik pengajuan pertanyaan dan pembelajaran dialogis dirangkai dengan diskusi siswa. Tentunya diskusi akan berkembang dengan bimbingan dan arahan guru. Diskusi ini dapat ditata oleh guru melalui diskusi kelompok kecil dan dikembangkan menjadi diskusi dalam jumlah kelaompok yang lebih besar.

Dalam aktivitas guru tersebut di atas, secara jelas bahwa peran guru tidaklah menjadi peran penting dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Guru sebagai peran pendukung yang memberikan arah yang jelas kepada siswa, bagaimana siswa hendaknya mendapatkan pengalaman belajarnya.

b. Meningkatkan aktivitas belajar siswa

Aktivitas belajar siswa terkait dengan bagaimana pembelajaran dilaksanakan. Saat ini, banyak terdapat metode dan model pembelajaran yang digunakan oleh guru di sekolah. Berbagai nama muncul dengan sintaks pembelajaran yang variatif. Hal ini sering disebut dengan model pembelajaran aktif. Berbagai model pembelajaran aktif tersebut mengembangkan pemahaman pembelajaran yang lebih baik untuk mendapatkan pengalaman belajar yang kontekstual.

Menyonsong pembelajaran abad ke-21, dikehendaki pembelajaran melibatkan keterampilan siswa yang maksimal dengan menerapkan empat kompetensi pembelajaran yang disebut dengan pembelajaran 4C. Pembelajaran abad 21 menekankan pada pembelajaran yang menekankan pada keterampilan 4C. Critical Thinking (Berpikir kritis), Creative (Kreatif), Communication (Komunikasi)dan Collaboration (Kolaborasi). Selain pembelajaran berbasis 4C juga ditingkatkan aktivitas berliterasi, dan kemampuan menggunakan TIK (Teknologi Informasi Komputer).

Untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa, guru dapat melakukan kegiatan pada siswa berupa penugasan membaca dan menulis secara terbimbing dan mandiri, melakukan kegiatan penemuan dan investigasi, memberikan penugasan individu dan kelompok, membiasakan penggunakaan TIK.

Disamping itu, hal yang paling penting dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa adalah membangun pembelajaran yang kolaboratif. Pengembangan pembelajaran kolaboratif ini disebabkan oleh guru tidak dapat begitu saja mentransfer pengetahuan dan pengalamannya kepada siswa, karena siswa perlu membangun pemikirannya sendiri melalui sebuah proses asimilasi informasi ke dalam pemahaman mereka. Ketika siswa berkolaboratif dengan siswa lainnya aktivitas belajar meningkat dengan baikm bukti menunjukkan bahwa sebagian besar siswa akan belajar lebih banyak, lebih dalam, dan lebih efektif (Major, 2005).

2. Mempertimbangkan Perbedaan Murid

Setiap siswa adalah unik. Mereka mempunyai gaya masing-masing dalam mengekspesikan dan mengaktualisasikan dirinya. Mereka memiliki kemampuan yang berbeda, memiliki gaya belajar yang berbeda, serta memiliki sikap yang berbeda dalam menanggapi hal yang sama. Dan kemudian, siswa juga mempunyai tingkat dan jenis kecerdasan yang berbeda.

Perbedaan siswa tersebut perlu dihargai dan dimengerti. Guru sangat perlu memperhatikan perbedaan yang dimiliki oleh siswa. Hal ini menjadi sangat mendasar dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Apalagi dalam pembelajaran yang multi perubahan di abad ke-21. Kecepatan siswa dalam menangkap informasi lebih cepat dibanding dengan yang diperkirakan oleh guru. Kecepatan ini pun tidak sama antara siswa satu dengan siswa lainnya.Artinya, dalam pembelajaran modern ini perbedaan siswa secara individual harus menjadi perhatian yang prioritas bagi guru (Djamarah, 2008).

Kyriacou (2011) menjelaskan tentang jenis perbedaan setiap individu siswa. Menurutnya, secara khusus terdapat enam perbedaan mendasar siswa, yaitu kemampuan, motivasi, kelas social, gender, ras, dan kebutuhan Pendidikan khusus.

3. Meningkatkan Kualitas Diri

Guru, secara keseluruhan, adalah figur yang manarik perhatian, baik di tengah keluarga, di masyarakat, apalagi di sekolah. Kemuliaan seorang guru tercermin dari kepribadian sebagai manifestasi dari sikap dan prilaku dari kehidupan sehari-hari (Djamarah, 2008). Kepribadian guru ini nantinya yang akan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap peningkatan kualitas belajar siswa, kualitas pembelajaran, dan kualitas diri guru.

Berdasarkan Permendikbud No 16 Tahun 2017 guru dapat meningkatkan kualitas dirinya dengan dua hal, yaitu (1) meningkatkan kualitas akademis. Peningkatan kualitas guru melalui peningkatan kualitas akademis dapat dilakukan oleh guru mengikuti pendidikan akademis secara formal di perguruan tinggi dan mengikuti pendidikan akademis nonformal, baik dalam bentuk diklat ataupun workshop. (2) Meningkatkan kualitas kompetensi. Peningkatan kualitas kompetensi guru di atur dengan meningkatkan empat kompetensi guru. Empat kompetensi guru tersebut sudah lama digaung-gaungkan melalui regulasi. Empat kompetensi guru tersebut terdiri atas kompetensi pedagogik, kepribadian, social, dan professional. Setiap kompetensi perlu dipahami, dimaknai, dan dilakukan oleh guru secara komprehensif agar terjadi peningkatan kualitas guru dalam menjadi panutan bagi siswa dan dalam meningkatkan proses belajar mengajar.

Selain hal di atas, peningkatan kualitas guru dapat dilakukan dengan meningkatkan kreativitas guru. Peningkatam kreativitas tidak dapat dilakukan dengan serta merta. Kreativitas akan terwujud melalui proses interaksi antara faktor-faktor psikologis guru dengan lingkungannya (Musbikin, 2010). Factor psikologis guru bersifat internal guru, baik itu motivasinya untuk berkreasi, daya dukung sarana dan orang yang ada disekitarnya, pengalaman, dan teori keilmuan yang dia miliki. Semua factor tersebut akan menjadi suatu hal yang kreatif apabila dissesuaikan dengan kebutuhan lingkungan dan zamannya.

Menurut Sudarma (2014) terdapat beberapa kreativitas guru yang perlu ditingkatkan seiring dengan perubahan pembelajaran abad ke-21.

  1. Memiliki akses informasi yang luas dan cepat
  2. Meningkatkan kreativitas membaca
  3. Meningkatkan kreativitas menulis
  4. Meningkatkan keterampilan dasar pembelajaran
  5. Meningkatkan kreativitas mengelola model pembelajaran
  6. Meningkatkan kreativitas mengelola materi pembelajaran berbasis teknologi

 

4. Membangun hubungan emosional dengan siswa

Guru dan siswa adalah dua sisi yang saling terikat dalam pembelajaran. Keduanya mempunyai gubungan dalam melakukan transfer pengetahuan dan transfer pengalaman. Hubungan dalm bentuk komunikasi dan koordinatif selalu berjalan sehingga terselenggaranya proses pembelajaran yang baik.

Akan tetapi, ada hal yang sering terabaikan dalam membangun hubungan antara guru dan siswa, yaitu hubungan emosional antara keduanya. Siswa di abad ini memiliki perkembangan karakter yang dipengarugi oleh karakter dunia global. Banyak hal yang diamati dan ditiru oleh siswa kita di abad ini. Guru tidaklah menjadi figure yang ditakuti seperti pada masa lampau, atau bahkan figur yang disegani. Bagi beberapa siswa mendapat pengaruh negative dari berbagai media yang mereka tonton, guru dianggap orang yang lebih tua yang memandu mereka di sekolah, sedangkan di luar sekolah, bagi siswa guru hanyalah orang yang biasa.

Oleh karena itu, perlunya guru membangun hubungan emosional yang baik dengan siswanya, untuk mengurangi dampak negatif terhadap pandangannya kepada guru. Hubungan emosional yang perlu dibangu oleh guru adalah:

1) Saling keterbukaan

Hubungan saling keterbukaan merupakan hubungan yang membuka jarak antara guru dengan siswa. Guru menjadi orang tua, teman berpikir, dan sahabat bagi siswa. Dengan demikian, guru memiliki sikap terbuka untuk dikritik. Hubungan ini dapat meningkatkan kreativitas dan sikap spontanitas siswa.

2) Perkuat jalinan spiritual

Hubungan spiritual adalah hubungan antara umat dengan sang maha pencipta. Dalam hubungan ini terjadi hubungan tiga sisi, sisi pertama adalah guru, siswa, dengan Sang Pencipta. Maka guru melakukan kegiatan mendoakan siswa. Dengan mendoakan siswa, hubungan antara guru dengan siswa akan semakin mendalam, adanya kesantunan. Hubungan mendoakan siswa dan orang lain sudah dinyatakan dalam surat At Taubah:103, seperti berikut.

خُذۡ مِنۡ اَمۡوَالِهِمۡ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيۡهِمۡ بِهَا وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡ‌ؕ اِنَّصَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمۡ‌ؕ وَاللّٰهُ سَمِيۡعٌ عَلِيۡمٌ

Artinya:

Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

3) Komunikasi mutualisme

Komunikasi mutualisme perlu dibangun oleh guru dengan siswanya dengan cara melakukan dialogis-dialogis yang sehat dan informatif. Bentuk dialogis yang dilakukan dapat berhubungan dengan pembelajaran, kemajuan pembelajaran siswa, cita-cita, siswa, atau rencana ke depan yang dirancang bersama guru dan siswa.

C. PENUTUP

Setiap pelaksanaan proses pembelajaran selalu membutuhkan guru. Banyak hal yang bias menggantikan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran, seperti media, buku, dan sumber informasi lainnya. Walaupun banyaknya yang dapat menggantikan guru dalam proses pembelajaran, tetapi, peran guru tidak akan pernah tergantikan. Apalagi di pembelajaran abad ke-21. Guru memiliki peran yang penting dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, penting bagi guru meningkatkan kompetensinya melalui berkreasi dalam meningkatkan perannya dalam proses pembelajaran di abad ke-21.

 

Daftar Pustaka

Djamarah, Syaiful Bahri. 2008. Psikologi Belajar. Jakarta:Rineka Cipta.

Ismail, Ilyas. Menyoal Kompetensi Abad ke-21. 

http://mediaindonesia.com/read/detail/126180-menyoal-kompetensi-abad-21 diunduh 1 Februari 2019.

Kyriacou, Chris. 2011. Effective Teaching, Theory and Practice. Bandung: Nusamedia.

Musbikin, Imam. 2010. Guru yang Manakjubkan. Yogyakarta:Buku Biru.

Sanjaya, Wina. 2012. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana.

Sudarma, Momon. 2014. Profesi Guru: Dipuji, Dikritisi, dan Dicaci. Jakarta: Rajawali Pers.

https://id.wikipedia.org/wiki/HerakleitosHerakleitos


Sumber :

Penulis :

Editor :

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP